Proses
belajar dan pendidikan keluarga yang baik dimulai sedini mungkin dan harus
berkelanjutan, lewat dukungan sosial dan kolaborasi dengan keluarga lain dan
pihak luar. Proses pembelajaran tersebut dengan cara mengasah dan membangun
kedekatan tidak hanya antara anak dengan orang tua, namun juga dengan anggota
lain, misalnya saudara, juga nenek dan kakek.
Pada
dasarnya, dalam komunikasi yang efektif seluruh anggota keluarga memiliki sudut
pandang positif dalam berkomunikasi dan memahami perilaku anak. Orang tua
memiliki tujuan pengasuhan dengan aspirasi yang tinggi dan mendorong anak untuk
mandiri. Tiap anggota keluarga memiliki pandangan positif dan motivasi internal
yang merupakan faktor terpenting dan paling efektif dalam mencapai tujuan
pengasuhan.
1.
Mengelola Emosi pada
Orang Tua
Emosi adalah bagian tidak
terpisahkan dari hubungan dalam keluarga. Pastikan kita memilih kemampuan
mengekspresikan emosi dengan baik. Seringkali orang tua sulit menangani emosi
karena faktor pada dirinya, bukan pada anak. Orang tua merespons pada
kebutuhan, bukan berespons pada kebutuhan dan pengalaman belajar untuk anak.
Anak akan meniru cara orang tua
mengekspresikan emosi. Pilih waktu dan tempat yang kondusif untuk menghadapi
anak saat ada tekanan emosi.
Emosi negatif yang tidak
ditangani dan disalurkan dengan tepat dapat memulai ‘lingkaran kemarahan’
kepada anak, diri sendiri, bahkan kepada emosi itu sendiri. Akibatnya, emosi
tidak terkendali dan berulang, ancaman dan hukuman makin berat.
2.
Saat Anak Marah
a. Dengarkan dengan
penuh perhatian dan seluruh tubuh. Lakukan kontak mata dan sentuh anak dengan
lembut.
b. Beri tanggapan dalam
satu kata, bukan nasihat panjang, agar anak bebas bereksprsesi. Contoh, “oh
begitu.” atau “Hmmm…”
c. Berikan nama
perasaan yang dialami anak, misalnya “Aku tahu, rasanya kayak ada gunung
meletus gitu di dada. Nggak enak ya?”
d. Sebut tingkah laku
anak, lalu kaitkan dengan emosinya, misalnya “Kamu tendang-tendang karena
marah, ya?”
e. Beri anak waktu
untuk mengekspresikan emosinya. Tetapi tetap tegas untuk tidak melanggar
kesepakatan bersama, misalnya “Kamu boleh nangis keras dulu, tapi tidak merusak
dan merobek-robek buku.”
f. Bila kita emosi,
pisahkan diri dengan tenang. Katakan kita perlu waktu untuk menenangkan diri.
g. Saat kita sudah tenang,
lakukan kontak dengan anak. Bila ia menolak, mendekatlah secara fisik.
h. Bahas tingkah laku
lain yang bisa dilakukan saat ia mengalami emosi yang sama, misalnya “Kalau
lagi kesal, daripada capek teriak-teriak, kamu bisa bilang kamu nggak suka.”
i. Setelah marah reda,
lakukan langkah menyelesaikan konflik bersama anak.
3.
Komunikasi Efektif
dan Tidak Efektif
Berkomunikasi
dilakukan setiap hari. Berikut cara berkomunikasi yang efektif dan yang tidak
efektif.
Komunikasi Tidak
Efektif
|
Komunikasi Efektif
|
·
Nasihat
Ø
Makanya
tas diperiksa tiap mau berangkat, jangan malas.
|
·
Refleksi
Pengalaman
Ø
Aku
juga dulu pernah ketinggalan PR, takut banget waktu ditanya guru. Akhirnya,
aku selalu periksa ulang tas sebelum berangkat
|
·
Interogasi
Ø
Kok,
bekalnya nggak dimakan? Kenyang? Kenapa? Nggak suka?
|
·
Menyatakan
Observasi
Ø
Ibu
lihat kotak bekal makanan kamu isinya masih agak banyak.
|
·
Menolak/Mengalihkan
Perasaan
Ø
Masa
sih kamu capek?
Ø
Kan
cuma gitu doang. Kok ngantuk.
|
·
Menunjukkan
Empati
Ø
Ngantuk
ya rasanya habis pulang sekolah?
Ø
Apa
yang paling bikin kamu lelah hari ini?
|
·
Perintah
Ø
Mandi
sekarang
|
·
Pilihan
Ø
Kita
akan berangkat ke rumah nenek 1 jam lagi, mau selesaikan baca dulu baru mandi
atau mandi dulu baru lanjut baca?
|
Catatan:
penggunaan
intonasi yang tepat akan efektif menyampaikan pesan positif
4.
Pemberian
Reward/Hadiah VS Dukungan
Reward/Hadiah
|
Dukungan
|
·
Dijadikan
sebelum perilaku, untuk mengontrol/memanipulasi anak
|
·
Spontan,
mengekspresikan perasaan orang tua
|
·
Pujian
global, melabeli anak (walau positif)
|
·
Spesifik,
fokus pada perilaku dan usaha
|
·
Anak
fokus pada faktor menyenangkan di luar dirinya (eksternal
|
·
Menumbuhkan
kenikmatan dari dalam, berhubungan dengan diri anak (internal)
|
·
Jumlah/reaksi
diukur dan ditetapkan orang tua
|
·
Reaksi
disesuaikan dengan tingkat antusiasme anak
|
·
Diberikan
pada saat anak sukses
|
·
Diberikan
di berbagai situasi, termasuk saat kesulitan
|
5. Cara
Baik Memberikan Konsekuensi dan Perbedaannya dengan Hukuman
Konsekuensi
|
Hukuman
|
a. Berhubungan dengan
Kesalahan
|
|
Ø
Mengeringkan
sofa
|
Ø
Tidak
boleh menonton TV
|
b. Masuk Akal
|
|
Ø
Mengeringkan
sofa dengan alat bantu dan target yang realistis
|
Ø
Menjaga
sofa sampai kering di terik matahari
|
c. Memberikan
Pengalaman Belajar
|
|
Ø
Mengajarkan
anak mandiri dan belajar memperbaiki
|
Ø
Meminta
anak berdiri terus agar kapok
|
d. Menjaga Harga Diri
Anak
|
|
Ø
Tidak
mempermalukan anak dengan menceritakan kesalahannya kepada orang lain
|
Ø
Mengancam
dan membentak sesudah kejadian
|
6.
Bijak Memuji Anak
a. Spontan (dalam
berbagai situasi)
Ø “Kelihatan PR-nya sulit,
tapi kamu tekun mengerjakannya”
b. Bukan untuk
memanipulasi
Ø “Kita saling bantu
ya, tolong ambilkan tas ibu”
c. Spesifik
Ø “Wah, aku suka
gambar ini karena warnanya bergradasi, dan yang kecil-kecil diwarnai juga”
d. Puji usahanya, bukan
hasilnya
Ø “Wah, ibu lihat tadi
kamu mencoba ambil sendiri airnya. Tumpah sedikit tidak apa.”
e. Tidak ada pesan
tersembunyi
Ø “Kakak hari ini
selesai mandi sepat dan tidak terlambat, gimana caranya?”
f. Tulus (sebab dan
situasinya jelas untuk anak)
Ø “Terima kasih ya,
kamu menolong bukakan pintu.”
g. Fokus pada kepuasan
internal (diri sendiri)
Ø “Kamu rapi sekali
mengatur mainannya. Enak ya, jadi gampang carinya nanti kalau mau cari
pasangannya.”
7.
Cara Baik Kritik
Anak
Kritik menjadi pengalaman belajar yang efektif
bila disampaikan dengan cara yang tepat pada anak.
a. Sampaikan spesifik
kesalahannya, bukan pada pribadi anak.
Ø “Mainanmu
berantakan,” bukan “Malas banget sih
kamu”
b. Dengarkan dan terima
perasaan anak.
Ø “Setelah kecapekan
main, berat ya masih harus merapikan mainan.”
c. Gunakan “Seandainya…”
atau “Ibu berharap….” Untuk menunjukkan efek positif.
Ø “Seandainya kamu
merapikan mainanmu setiap habis main, pasti lebih gampang carinya pas mau
dipakai lagi.”
d. Fokus pada perilaku
dan situasi yang bisa diubah, bukan kesalahan.
Ø “Kita bisa cari dan
pakai kotak sepatu bekas untuk menyimpan balok,” bukan “Kamu selalu menghilangkan pasangan balok.”
e. Bantu anak memahami:
kesalahan harus diakui, bukan dihindari; bisa diperbaiki, bukan menetap;
berguna untuk belajar, bukan merugikan.
Ø “Mama dan Bude dulu
juga sering berdebat pas mainan hilang. Terus dihias kotak mainannya. Karena
bagus, jadi senang merapikan. Sekarang masih ada tuh mainannya disimpan.”
8.
Restitusi
Proses mengajarkan anak untuk memperbaiki
kesalahan pada orang lain:
a. Melakukan upaya
rehabilitasi: mengganti/memperbaiki benda/situasi.
Contoh:
Mengelem buku kakak yang disobek.
b. Membuat resolusi:
berjanji dan membuat rencana untuk mencegah kesalahan terulang kembali.
Contoh:
Lain kali, bagaimana cara memegangnya agar bukunya terjaga?
c. Melakukan rekonsiliasi:
Menyatakan maaf lewat perbuatan dan atau kata-kata dengan sukarela (hanya
setelah melakukan langkah 1 dan 2).
Contoh: Memeluk kakak,
membuat buku cerita untuk kakak, atau menulis kartu maaf.
1.
Panduan Membuat
Kesepakatan Bersama Anak
a. Dibuat dengan
KETERLIBATAN semua anggota keluarga. Hasil diskusi dan negosiasi.
b. Fokus hanya pada hal
yang dianggap PENTING oleh semua anggota keluarga. Pastikan alasannya dapat
dijelaskan anak.
c. Hanya SEDIKIT. Anak
harus mampu mengingat dan melaksanakannya dengan konsisten.
d. Menyebutkan NILAI
yang dijunjung keluarga. Anak memahami tanggungjawab sebagai anggota kelompok dan
kebutuhan orang lain.
e. Dinyatakan dengan
POSITIF. Menggambarkan apa yang harus dilakukan, bukan apa yang dilarang.
f. Menjelaskan
KONSEKUENSI bila kesepakatan dilanggar. Menyebutkan juga peran/bantuan yang
dilakukan anak dan orang tua.
g. Dibuat TERTULIS di
area yang mudah dilihat dan dijangkau anak. Ajak anak membuat visualisasinya.
h. Perlu DITINJAU ULANG
bila muncul beberapa kali atau setelah periode tertentu. Memberi contoh
refleksi yang baik pada anak.


0 komentar:
Posting Komentar