RSS

01 Oktober 2019

Komunikasi Efektif Antar Anggota Keluarga

Proses belajar dan pendidikan keluarga yang baik dimulai sedini mungkin dan harus berkelanjutan, lewat dukungan sosial dan kolaborasi dengan keluarga lain dan pihak luar. Proses pembelajaran tersebut dengan cara mengasah dan membangun kedekatan tidak hanya antara anak dengan orang tua, namun juga dengan anggota lain, misalnya saudara, juga nenek dan kakek.
Pada dasarnya, dalam komunikasi yang efektif seluruh anggota keluarga memiliki sudut pandang positif dalam berkomunikasi dan memahami perilaku anak. Orang tua memiliki tujuan pengasuhan dengan aspirasi yang tinggi dan mendorong anak untuk mandiri. Tiap anggota keluarga memiliki pandangan positif dan motivasi internal yang merupakan faktor terpenting dan paling efektif dalam mencapai tujuan pengasuhan.

1.    Mengelola Emosi pada Orang Tua
Emosi adalah bagian tidak terpisahkan dari hubungan dalam keluarga. Pastikan kita memilih kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik. Seringkali orang tua sulit menangani emosi karena faktor pada dirinya, bukan pada anak. Orang tua merespons pada kebutuhan, bukan berespons pada kebutuhan dan pengalaman belajar untuk anak.
Anak akan meniru cara orang tua mengekspresikan emosi. Pilih waktu dan tempat yang kondusif untuk menghadapi anak saat ada tekanan emosi.
Emosi negatif yang tidak ditangani dan disalurkan dengan tepat dapat memulai ‘lingkaran kemarahan’ kepada anak, diri sendiri, bahkan kepada emosi itu sendiri. Akibatnya, emosi tidak terkendali dan berulang, ancaman dan hukuman makin berat.

2.    Saat Anak Marah
a.     Dengarkan dengan penuh perhatian dan seluruh tubuh. Lakukan kontak mata dan sentuh anak dengan lembut.
b.     Beri tanggapan dalam satu kata, bukan nasihat panjang, agar anak bebas bereksprsesi. Contoh, “oh begitu.” atau “Hmmm…”
c.     Berikan nama perasaan yang dialami anak, misalnya “Aku tahu, rasanya kayak ada gunung meletus gitu di dada. Nggak enak ya?”
d.     Sebut tingkah laku anak, lalu kaitkan dengan emosinya, misalnya “Kamu tendang-tendang karena marah, ya?”
e.     Beri anak waktu untuk mengekspresikan emosinya. Tetapi tetap tegas untuk tidak melanggar kesepakatan bersama, misalnya “Kamu boleh nangis keras dulu, tapi tidak merusak dan merobek-robek buku.”
f.      Bila kita emosi, pisahkan diri dengan tenang. Katakan kita perlu waktu untuk menenangkan diri.
g.     Saat kita sudah tenang, lakukan kontak dengan anak. Bila ia menolak, mendekatlah secara fisik.
h.     Bahas tingkah laku lain yang bisa dilakukan saat ia mengalami emosi yang sama, misalnya “Kalau lagi kesal, daripada capek teriak-teriak, kamu bisa bilang kamu nggak suka.”
i.      Setelah marah reda, lakukan langkah menyelesaikan konflik bersama anak.

3.    Komunikasi Efektif dan Tidak Efektif
Berkomunikasi dilakukan setiap hari. Berikut cara berkomunikasi yang efektif dan yang tidak efektif.
Komunikasi Tidak Efektif
Komunikasi Efektif
·      Nasihat
Ø Makanya tas diperiksa tiap mau berangkat, jangan malas.



·      Refleksi Pengalaman
Ø Aku juga dulu pernah ketinggalan PR, takut banget waktu ditanya guru. Akhirnya, aku selalu periksa ulang tas sebelum berangkat

·      Interogasi
Ø Kok, bekalnya nggak dimakan? Kenyang? Kenapa? Nggak suka?
·      Menyatakan Observasi
Ø Ibu lihat kotak bekal makanan kamu isinya masih agak banyak.

·      Menolak/Mengalihkan Perasaan
Ø Masa sih kamu capek?
Ø Kan cuma gitu doang. Kok ngantuk.

·      Menunjukkan Empati
Ø Ngantuk ya rasanya habis pulang sekolah?
Ø Apa yang paling bikin kamu lelah hari ini?

·      Perintah
Ø Mandi sekarang
·      Pilihan
Ø Kita akan berangkat ke rumah nenek 1 jam lagi, mau selesaikan baca dulu baru mandi atau mandi dulu baru lanjut baca?

Catatan:
penggunaan intonasi yang tepat akan efektif menyampaikan pesan positif


4.    Pemberian Reward/Hadiah VS Dukungan
Reward/Hadiah
Dukungan
·      Dijadikan sebelum perilaku, untuk mengontrol/memanipulasi anak

·      Spontan, mengekspresikan perasaan orang tua
·      Pujian global, melabeli anak (walau positif)

·      Spesifik, fokus pada perilaku dan usaha
·      Anak fokus pada faktor menyenangkan di luar dirinya (eksternal
·      Menumbuhkan kenikmatan dari dalam, berhubungan dengan diri anak (internal)
·      Jumlah/reaksi diukur dan ditetapkan orang tua
·      Reaksi disesuaikan dengan tingkat antusiasme anak
·      Diberikan pada saat anak sukses
·      Diberikan di berbagai situasi, termasuk saat kesulitan



5.     Cara Baik Memberikan Konsekuensi dan Perbedaannya dengan Hukuman
Konsekuensi
Hukuman
a.   Berhubungan dengan Kesalahan
Ø Mengeringkan sofa
Ø Tidak boleh menonton TV
b.   Masuk Akal
Ø Mengeringkan sofa dengan alat bantu dan target yang realistis
Ø Menjaga sofa sampai kering di terik matahari
c.   Memberikan Pengalaman Belajar
Ø Mengajarkan anak mandiri dan belajar memperbaiki
Ø Meminta anak berdiri terus agar kapok
d.   Menjaga Harga Diri Anak
Ø Tidak mempermalukan anak dengan menceritakan kesalahannya kepada orang lain
Ø Mengancam dan membentak sesudah kejadian


6.    Bijak Memuji Anak
a.     Spontan (dalam berbagai situasi)
Ø  “Kelihatan PR-nya sulit, tapi kamu tekun mengerjakannya”
b.     Bukan untuk memanipulasi
Ø  “Kita saling bantu ya, tolong ambilkan tas ibu”
c.     Spesifik
Ø  “Wah, aku suka gambar ini karena warnanya bergradasi, dan yang kecil-kecil diwarnai juga”
d.     Puji usahanya, bukan hasilnya
Ø  “Wah, ibu lihat tadi kamu mencoba ambil sendiri airnya. Tumpah sedikit tidak apa.”
e.     Tidak ada pesan tersembunyi
Ø  “Kakak hari ini selesai mandi sepat dan tidak terlambat, gimana caranya?”
f.      Tulus (sebab dan situasinya jelas untuk anak)
Ø  “Terima kasih ya, kamu menolong bukakan pintu.”
g.     Fokus pada kepuasan internal (diri sendiri)
Ø  “Kamu rapi sekali mengatur mainannya. Enak ya, jadi gampang carinya nanti kalau mau cari pasangannya.”

7.    Cara Baik Kritik Anak
Kritik menjadi pengalaman belajar yang efektif bila disampaikan dengan cara yang tepat pada anak.
a.     Sampaikan spesifik kesalahannya, bukan pada pribadi anak.
Ø  “Mainanmu berantakan,” bukan “Malas banget sih kamu”
b.     Dengarkan dan terima perasaan anak.
Ø  “Setelah kecapekan main, berat ya masih harus merapikan mainan.”
c.     Gunakan “Seandainya…” atau “Ibu berharap….” Untuk menunjukkan efek positif.
Ø  “Seandainya kamu merapikan mainanmu setiap habis main, pasti lebih gampang carinya pas mau dipakai lagi.”
d.     Fokus pada perilaku dan situasi yang bisa diubah, bukan kesalahan.
Ø  “Kita bisa cari dan pakai kotak sepatu bekas untuk menyimpan balok,” bukan “Kamu selalu menghilangkan pasangan balok.”
e.     Bantu anak memahami: kesalahan harus diakui, bukan dihindari; bisa diperbaiki, bukan menetap; berguna untuk belajar, bukan merugikan.
Ø  “Mama dan Bude dulu juga sering berdebat pas mainan hilang. Terus dihias kotak mainannya. Karena bagus, jadi senang merapikan. Sekarang masih ada tuh mainannya disimpan.”

8.    Restitusi
Proses mengajarkan anak untuk memperbaiki kesalahan pada orang lain:
a.     Melakukan upaya rehabilitasi: mengganti/memperbaiki benda/situasi.
Contoh: Mengelem buku kakak yang disobek.
b.     Membuat resolusi: berjanji dan membuat rencana untuk mencegah kesalahan terulang kembali.
Contoh: Lain kali, bagaimana cara memegangnya agar bukunya terjaga?
c.     Melakukan rekonsiliasi: Menyatakan maaf lewat perbuatan dan atau kata-kata dengan sukarela (hanya setelah melakukan langkah 1 dan 2).
Contoh: Memeluk kakak, membuat buku cerita untuk kakak, atau menulis kartu maaf.


1.    Panduan Membuat Kesepakatan Bersama Anak

a.     Dibuat dengan KETERLIBATAN semua anggota keluarga. Hasil diskusi dan negosiasi.

b.     Fokus hanya pada hal yang dianggap PENTING oleh semua anggota keluarga. Pastikan alasannya dapat dijelaskan anak.

c.     Hanya SEDIKIT. Anak harus mampu mengingat dan melaksanakannya dengan konsisten.
d.     Menyebutkan NILAI yang dijunjung keluarga. Anak memahami tanggungjawab sebagai anggota kelompok dan kebutuhan orang lain.
e.     Dinyatakan dengan POSITIF. Menggambarkan apa yang harus dilakukan, bukan apa yang dilarang.
f.      Menjelaskan KONSEKUENSI bila kesepakatan dilanggar. Menyebutkan juga peran/bantuan yang dilakukan anak dan orang tua.
g.     Dibuat TERTULIS di area yang mudah dilihat dan dijangkau anak. Ajak anak membuat visualisasinya.
h.     Perlu DITINJAU ULANG bila muncul beberapa kali atau setelah periode tertentu. Memberi contoh refleksi yang baik pada anak.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright yuliana @2010. Powered by Blogger.Designed by Mas Yuli .
Converted To Blogger Template by Mas Yuli .